Beranda > Ceritaku > Laskar Pelita di Aceh Tengah [Bag 3]

Laskar Pelita di Aceh Tengah [Bag 3]


Sore itu, hampir maghrib, kami tiba di Universitas Gajah Putih Takengon, Aceh Tengah. Lelah, penat dan capek campur jadi satu. Tak terasa selama kurang lebih 7 jam di perjalanan dari Banda Aceh ke Takengon, akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Perjalanan panjang yang mengasyikan, mengharukan dan ada juga rasa was-was akhirnya hilang sudah setelah sampai di Takengon. Setelah ‘isya kami menuju kost untuk istirahat, perjalanan 7 jam benar-benar menguras tenaga kami.

Tak terasa hari sudah pagi, sang mentari pun senyum dengan hangatnya. Beberapa kawan Pelita datang untuk menjemput kami, tidak lain mengantar kami untuk mandi. Maklum, di kost air tidak mengalir alias mampet. Kesan pertama bertemu dengan orang Gayo, penduduk asli Aceh, sikapnya ramah persis seperti orang Jawa. Senyum ikhlas diberikan kepada tamu dari jauh, yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Aceh, bahkan di pulau Sumatera ini.

Bertemu dengan kawan-kawan Pelita, seperti biasa, hambar, sungkan, takut-takut, pasang muka cakep, hemmm…ternyata berkenalan dengan orang baru itu dimana saja sama juga rasanya. Tapi tidak terlalu lama, akhirnya suasana pun jadi cair. Kami cepat akrab, tidak ada lagi rasa sungkan yang berlebihan. Tidak ada lagi rasa canggung, mungkin karena kami umurnya sebaya jadi mudah akrab.

Beberapa hari bersama Pelita, ada perasaan nyaman dan senang dihatiku. Baru kali ini aku bertemu dengan orang-orang hebat, berkenalan dengan komunitas yang benar-benar mengedepankan rasa kekeluargaan. Dalam batin aku berkata, ternyata cerita Laskar Pelangi benar-benar ada. Laskar Pelita, yang mempunyai semangat Laskar Pelangi. Sungguh, baru kali ini aku kenal dengan orang-orang seperti mereka. Sekarang, aku tidak bisa menuangkan ke dalam kata-kata apa yang ada didalam hati. Aku hanya bisa bersyukur kepada-Nya,yang telah menganugerahkan nikmat yang luar biasa ini.

Majulah dengan ilmu dan semangat yang kau miliki, jangan pernah keluar dari mulut kata menyerah. Karena menyerah bukan tradisi bangsa Indonesia, bukan pula tradisi para pahlawan. Salam dari kawan yang jauh tapi dekat dihati.

[tamat]

Kategori:Ceritaku
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: