Beranda > Ceritaku > Laskar Pelita di Aceh Tengah [bag 1]

Laskar Pelita di Aceh Tengah [bag 1]


Awal Mei 2009 merupakan bulan yang penuh kejutan dan tantangan
Penuh dengan pengalaman – pengalaman baru, serta teman – teman baru
Kira – kira tanggal 5 Mei 2009, saya berangkat ke Jakarta menuju markas Yayasan Air Putih
Penuh dengan kegelisahan, emosi, dan semangat yang menggebu – gebu karena saya akan ke Aceh Tengah melaksanakan tugas migrasi OpenSource

Selama 2 hari di jakarta mempersiapkan segalanya, termasuk mental dan amunisi
Tanggal 7 Mei 2009, tepatnya pukul 7 pagi saya bertolak ke bandara internasional Soekarno Hatta
Pesawat berangkat pukul 8.30 pagi, sehingga kami harus segera tiba di bandara
Inilah pertama kalinya saya naik pesawat, bepergian menggunakan pesawat, pertama kali keluar pulau jawa, pertama kali perjalanan paling jauh sementara ini yang pernah saya lakukan

On time, saya sangat merasa bangga karena take of tepat waktu
karena biasanya saya menumpang angkutan pastilah ngetem dulu, lama sekali
tapi tidak untuk pesawat yang saya tumpangi ke Aceh

Rasa senang, bangga, haru, dan sedikit takut ketika menginjakkan kaki di pesawat
Timbul rasa dan pertanyaan aneh, apakah yang akan terjadi nanti?
Bagaimana keadaan didalam pesawat?
Apakah yang terasa ketika pesawat sudah diatas angin?
Bagaimana, apakah, pertanyaan itulah yang terus muncul
tapi alhamdulillah, setelah mengucapkan Bismillah, hati ini merasa tenang
Seperti dibelai penuh kasih sayang oleh Yang Maha Agung

Detik – detik take of pun di mulai, Bang Somat, teman migrasi ke Aceh dari Pekalongan duduk disampingku dengan penuh semangat
Kami baru kenal saat di Jakarta, karena tugas migrasi ini, satu tujuan
Yaitu memigrasi seluruh komputer di Dinas Pemerintahan Aceh Tengah, termasuk kecamatan – kecamatan

Kami pun bercerita mengenai pengalaman masing – masing, mulai dari kapan mengenal linux, pengalaman kuliah, organisasi sampai masalah pribadi
Dan ternyata perjalanan hidup Bang Somat tidak jauh beda dengan saya, putus nyambung kuliah, cari uang untuk sesuap nasi kesana kemari, dan masih banyak lagi
Suasana mencair, sehingga kami pun langsung akrab seperti sahabat yang sudah lama kenal

Tidak terasa, setelah kurang lebih 3 jam berada di pesawat dan diselingi ngobrol dengan Bang Somat, kami akhirnya siap – siap landing di bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh…
Subhanallah, sungguh tidak sia – sia Allah menciptakan semua ini
kebesaran Allah tampak begitu mempesona terlihat di atas awan, begitu indah
Tidak ada kata yang terucap oleh lisan manusia yang beriman kecuali Subhanallah, Sungguh Maha Indah Dia

Landing pun sempurna dengan rasa syukur di hati
Inilah, kaki saya permata kali menginjak tanah rencong
Tempat yang sudah lama saya rindukan untuk berkunjung, dan akhirnya kerinduan ini pun terpenuhi, alhamdulillah

bersambung …

Kategori:Ceritaku
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: