Beranda > Ceritaku > Laskar Pelita di Aceh Tengah [bag 2]

Laskar Pelita di Aceh Tengah [bag 2]


Setelah mengambil tas, dan perlengkapan lain, Bang Somat langsung menelepon kawan dari Yayasan Air Putih yang ada di Banda Aceh
Setelah beberapa saat, kami pun telah ditunggu oleh Bang Okta di parkiran mobil
Permata berkenalan dengan Bang Okta, sempat muncul pikiran kalau beliau ini sifatnya temperamental, kasar dan bengis karena kulit beliau yang gelap, badan tegap, wajah terlihat sangar
Tapi ternyata dugaan saya 100% salah, Bang Okta ini orangnya baik, respect, friendly, asyik pokoknya
Senang berkenalan dengan beliau

Kamipun sedikit bercerita mengenai Banda Aceh sewaktu di mobil, mengenai masyarakatnya, mengenai adat istiadatnya, dan mengenai konflik yang terjadi beberapa tahun lalu
Selang beberapa saat, Bang Okta mengajak kami minum di kedai kopi
Kata Bang Okta, kedai kopi ini omset per bulan bisa mencapai puluhan juta rupiah
Saya jadi berpikir, bagaimana bisa segitu besar omset yang didapat melihat kedai yang tidak terlalu besar, menu yang disajikan juga tidak terlalu wah
Ternyata kuncinya adalah kepercayaan, para pelanggan percaya akan racikan kopi gayo yang terkenal itu di kedai ini
Didukung oleh tempat yang strategis, mudah dijangkau dan nyaman untuk melepas lelah

Kamipun segera melanjutkan perjalanan menuju kantor Yayasan Air Putih yang bertempat di Banda Aceh, setelah mencicipi racikan kedai kopi tadi
Kantor Yayasan Air Putih letaknya tidak terlalu jauh dengan kedai kopi tempat kami melepas lelah tadi
Sesampainya di kantor Yayasan Air Putih, kami pun ditunggu oleh karyawan – karyawan Air Putih, dan tentunya si bos, Bang Ahmad Haris

Setelah berkenalan semua yang ada dikantor, kamipun berniat untuk ‘ngaso’ sebentar, sekedar melepas lelah
Tetapi karena dasarnya kami kecanduan dengan internet, begitu tahu kalau dikantor ada fasilitas internet, kamipun lupa akan rasa lelah sepanjang perjalanan
Segeralah kami membuka laptop dan meluncur di dunia maya sambil review mengenai tugas kami nanti

Tidak terasa hari sudah sore, saya pun lekas mandi, sudah tidak tahan dengan bau ‘wangi’ yang ada di badan
Setelah sholat maghrib, saya keluar untuk melihat sekitar kantor
Betapa terkejutnya ketika kepala saya menengadah ke langit
Sekali lagi, Allah menampakkan keindahan-Nya
Belum pernah saya melihat langit seindah ini waktu malam, dengan bulan yang seakan – akan lebih besar dari yang selama ini saya lihat di tempat lain
Dengan dihiasi bintang gemintang yang terasa sangat dekat, seakan -akan saya bisa memetiknya
Sungguh pemandangan malam yang membuat hati ini merasa sangat disayangi oleh Allah, karena diperlihatkan sebagian kecil keindahan-Nya

Jam 9 malam, Bang Haris mengajak saya dan Bang Somat keluar membeli makan
Ditengah dinginnya malam, kereta (panggilan sepeda motor di Aceh) kami melaju dengan cepatnya
Melihat rombong – rombong makanan di pinggir jalan, akhirnya nasi goreng menjadi pilihan favorit kami
Sambil menyantap nasi goreng nan lezat, Bang Haris bercerita banyak mengenai pengalamannya di Aceh, dan juga bercerita mengenai Aceh dan apa yang ada di Aceh

Tidak terasa kami ngobrol sampai tengah malam, akhirnya kami menyudahi obrolan dan segera kembali ke kantor untuk istirahat
Karena esok paginya kami harus berangkat ke Takengon, Aceh Tengah
Tempat saya akan mendapatkan tantangan dan pengalaman – pengalaman yang tidak akan terlupakan

bersambung …

Kategori:Ceritaku
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: